MUHASABAH
( Renungan Tahun Baru )
Oleh : Ateng Chozany Miftah
(Ketua Komite SMP Negeri 10 Semarang)
Waktu bergulir tanpa pernah berhenti walaupun sesaat. Tidak terasa baru saja kita telah menghabiskan satu tahun usia kehidupan di tahun 2024. Dan kini sudah berada di tahun 2025 yang pada saatnya akan kita habiskan pula. Entah seluruhnya atau sebagiannya. Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.
Selama 365 hari di tahun 2024, masing-masing kita pasti memiliki catatan tentang apa-apa yang telah diperbuat dan dialami. Yang tahu persis secara menyeluruh dan bisa menghitung-hitungnya, hanyalah diri kita sendiri dan Allaah SWT.
Berkaitan dengan hal ini, penulis terinspirasi untuk mengangkat renungan kali ini, dengan judul "MUHASABAH”.
Dalam membahas tentang MUHASABAH kali ini, adaa 6 (enam) hal pokok yang akan kita renungkan, yaitu: (1) Pengertian Muhasabah; (2).Pentingnya Muhasabah, (3). Aspek-Aspek Muhasabah; (4) Dimensi Muhasabah; (5) Spirit Muhasabah; dan (6) Laksana Bercermin.
I.PENGERTIAN MUHASABAH
Menurut tinjauan bahasa kata “Muhasabah” (bahasa Arab), berasal dari kata dasar “hasaba-yahsabu-hisaban”, yang memiliki makna dasar “melakukan perhitungan”. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dimaksud dengan “Muhasabah” adalah “instrospeksi diri”.
Dengan demikian, dalam terminologi Islam, “MUHASABAH” bisa diartikan: “Upaya seseorang dalam melakukan evaluasi atau instrospeksi diri (melakukan perhitungan) terhadap kebaikan dan keburukan yang telah diperbuat pada semua aspek kehidupannya”.
II.PENTINGNYA MUHASABAH
Acuan mendasar tentang betapa pentingnya bermuhasabah diingatkan oleh Allaah SWT dalam firman-Nya.
يَااَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا التَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدّمَتْ لِغَدٍ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (QS:Al Hasyr:18).
Demikian pula sejalan dengan firman Allaah SWT di atas, Rasulullah s.a.w bersabda.
اَلْكَيْسُ مَنْ دَأَنَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ وَالعَاجِزُ مَنْ اَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
“Orang yang pandai adalah yang menghisab dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah, adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR.Imam Tirmidzi).
Untuk itulah kiranya, sahabat Rasulullah s.a.w, Khalifah Umar bin Khaththab r.a juga mengingatkan kita:
حَاسِبُوا اَنْفُسَكُمْ قَبْلَ اَنْتُحَاسَبُوا وَزِنُوهَا قَبْلَ اَنْ تُوزَنُوا وَتَاَهَّبُوا لِلْعَرْضِ الاَكْبَرِ
“Hendaklah kalian mengisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari ditampakkannya amal (di akhirat kelak) ”. (HR.Ahmad dan Tirmidzi).
Demikianlah betapa pentingnya menghisab diri (“Muhasabah”) sepanjang kehidupan. Sebelum kelak di akhirat dihisab oleh Allah SWT.
II.ASPEK-ASPEK MUHASABAH
Secara umum, muhasabah dilakukan terhadap seluruh amal perbuatan yang telah dilakukan sepanjang kehidupan. Seberapa banyak amal kebaikan dan seberapa banyak amal keburukan telah diperbuat.
Khusus terhadap amal kebaikan, Imam Al Ghazali mengingatkan agar muhasabah hendaknya dilakukan terhadap tiga aspek mendasarnya. Yaitu aspek NIAT-nya, aspek IKHLAS-nya, dan aspek BENAR-nya (sesuai syari’at).
Hal ini sangat penting dilakukan, karena bermakna serta bernilainya sebuah amal kebaikan dalam pandangan Allah SWT, sangat ditentukan oleh terpenuhinya tiga aspek tersebut. Ketika salahsatu dari tiga aspek tersebut tidak dipenuhi, maka amal kebaikan tersebut akan hilang nilainya di sisi Allaah SWT.
III. DIMENSI MUHASABAH
Bila dikelompokkan secara garis besarnya, ada empat dimensi mendasar yang harus dijadikan objek muhasabah, yaitu:
1.Muhasabah Terhadap Amal Perbuatan Dalam Dimensi Hablun Min-Allah.
Berkaitan dengan dimensi ini, ada aspek mendasar yang harus senantiasa dijadikan objek muhasabah, yaitu aspek ‘AQIDAH dan AMAL IBADAH.
a.Muhasabah aspek ‘Aqidah
Berkaitan dengan aspek ‘AQIDAH, muhasabah dilakukan untuk mengevaluasi keteguhan serta keistiqomahan dalam keimanan dan mengesakan Allah, jauh dari mensekutukan-Nya (Syirik). Baik mengsekutukan dalam hati maupun dalam bentuk amal pebuatan, sebagaimana diingatkan oleh Allah.
اِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَمَ اللهُ عَلَيْهِ الجَنَّةَ وَمَأوَاهُ النَّارُوَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ اَنْصَارِ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS:Al-Maidah:72).
b.Muhasabah aspek amal Ibadah.
Dalam aspek AMAL IBADAH, kita bermuhasabah untuk mengevaluasi sejauhmana AMAL IBADAH telah kita lakukan. Baik secara kuantitatif demikian pula kualitatifnya. Baik amalan-amalan fardhunya, demikian pula amalan-amalan sunnahnya. Dengan niat melaksanakan apa yang diingatkan Allah dalam firman-Nya.
وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُونَ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku”. (QS:Adz-Dzaariyaat:56).
Berkaitan dengan evaluasi terhadap pelakasanaan amal ibadah dari aspek kualitatifnya, kembali kepada yang diingatkan oleh Imam Al Ghazali sebagaiman telahdiungkap di muka. Kita perlu mengevaluasi tiga aspek mendasarnya. Yaitu: kelurusan niatnya, keikhlasannya serta kebenaran tatacara pelaksanaannya sesuai syari’at (terpenuhi syarat dan rukunnya).
2.Muhasabah Terhadap Amal Perbuatan Dalam Dimensi Hablun Minannaas
Inti muhasabah dalam aspek ini adalah menghitung-hitung dan memotret amal perbuatan kita terhadap sesama manusia.
Prinsip mendasar amal perbuatan dengan sesama manusia adalah ”saling berbuat kebajikan.
وَاَحْسِنْ كَمَا اَحْسَنُ اللهُ اِلَيْكَ
“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu”.(QS:Al-Qashash:77).
Disamping itu, hendaknya menjauhkan diri dari banyak berbuat kesalahan atau kedhaliman terhadap sesama manusia dan tidak sempat minta maaf. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah s.a.w, agar tidak menjadi orang bangkrut di akhirat kelak.
اِنَّ المُفْلِسَ مِنْ اَمَّتِي يَأتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِصَلَاةِ وَصِيَامِ وَزَكَاةِ وَيَأتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَفَذَفَ هَذَا وَاَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا. فَيَعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ.
"Sesungguhnya orang yang menderita bangkrut berat dari umatku adalah orang yang dibangkitkan di hari Qiyamat dengan membanggakan amal ibadahnya yang banyak. Ia datang dengan membawa pahala shalatnya, pahala puasa, pahala zakat, dan amal lainnya. Tetapi kemudian datang pula menyertai orang itu, orang yang dulu pernah dicaci maki, dituduh berbuat jahat, yang hartnya pernah dimakan olehnya, orang yang pernah ditumpahkan darahnya. Semua amal kebaikan orang tersebut, dibagikan kepada orang-orang yang pernah didhaliminya, sehingga mala kebaikannya habis terbagikan (bangkrut)”. (HR: Muslim).
Dengan demikian, ketika dari hasil muhasabah, kita menemukan catatan-catatan pernah berbuat kedhaliman terhadap sesama manusia, maka berupayalah untuk segera meminta maaf kepadanya sebelum ajal tiba, sebagaimana pesan Rasulullah s.a.w berikut ini.
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلُمَةُ لِاَخِيهِ مِنْ عَرْضِهِ اَوْ مِنْ شَيءٍ فَلْيَتَحَلَّلَهُ مِنْهُ اليَوْمَ قَبْلَ اَنْ لَا يَكُونَ دِيْنَارُ وَلَا دِرْهَمُ, اِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ اَخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِمَظْلَمَتِهِ وَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ اَخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Barangsiapa yang mempunyai kedhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang dihalimi itu, lalu dipikulkan kepada orang mendhaliminya itu”. (HR.Bukhari).
Demikianlah, muhasabah terhadap kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan terhadap sesama manusia sangat penting setiap saat kita lakukan. Lebih penting lagi, tindak lanjuti dengan segera meminta maaf, agar kelak di akhirat tidak menjadi orang yang bangkrut.
3.Muhasabah Terhadap Amal Perbuatan Dalam Dimensi Hablun Minal-‘Alam.
Fokus muhasabah dalam dimensi ini, dilakukan untuk mengevaluasi sejauhmana kita telah memperlakukan serta mendayagunakan lingkungan alam tersebut sesuai dengan ajaran-ajaran Allah.
Ada dua prinsip mendasar yang harus diperhatikan dalam bertatahubungan hidup dengan lingkungan alam sebagaimana diingatkan oleh Allah SWT.
Pertama. Prinsip menjadi pengelola dan pengguna lingkungan alam yang baik.
هُوَ اَنْشَأكُمْ مِنَ الاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya”. (QS:Hud:61).
Kedua. Prinsip melindungi, melestarikan dan jangan membuat kerusakan.
وَلَا تَبْغِ الفَسَادَ فِى الاَرْضِ اِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ المُفْسِدِينَ
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS:Al-Qashash:77).
Dengan demikian, fokus muhasabah dalam dimensi Hablun Minal-‘alam, dilakukan untuk mengevaluasi sejauhmana kita telah turut aktif mengelola serta meggunakan lingkungan alam ini dengan baik, sesuai kapasitas serta kemampuan yang dimiliki. Atau sebaliknya mungkin masih terjebak kepada sikap tidak peduli terhadap lingkungan alam, bahkan ikut merusaknya.
4.Muhasabah Terhadap Penggunaan Umur, Ilmu, Harta, dan Anggaota Badan.
Pentingnya bermuhasabah terhadap Umur, Ilmu, Harta dan Anggauta Badan), berkaitan dengan apa yang diingatkan oleh Rasulullah s.a.w dalam sabdanya.
لَاتَزُولُ قَدَمَاعَبْدِ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْاَلَ عَنْ اَرْبَعٍ, عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا اَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا اَبْلَأهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ اَيْنَ اَكْتَسَبَهُ وَفِيمَا اَنْفَقَهُ
“Kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat tidak akan beranjak hingga dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan? Tentang ilmunya apa yang telah diamalkan? Tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana/untuk apa ia habiskan? Tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan?”. (HR.Tirmidzi).
Dari empat hal tersebut, ternyata muhasabah terhadap HARTA mempunyai keistimewaan. Karena berbeda dengan tiga hal lainnya, pertanyaan tentang harta ada dua aspek, yaitu:”bagaimana cara mendapatkannya, dan “untuk apa digunakannya”. Kedua-duanya harus benar sesuai dengan ajaran Allah.
Boleh jadi cara mendapatkannya sudah benar, namun sayang harta tersebut digunakan untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah. Atau sebaliknya, penggunaannya sudah benar sesuai dengan yang diridhai Allah, namun sayang harta tersebut didapatkan dari hasil yang tidak diridhai oleh Allah.
IV.SPIRIT MUHASABAH
Setiap perbuatan, selalu memiliki atau mengandung spirit atau semangat di dalamnya. Demikian halnya, dalam bermuhasabahpun, harus ada spirit didalamnya.
Setidaknya ada dua spirit mendasar yang harus melandasi kita dalam rajin bermuhasbah.
1.Berupaya Untuk Lebih Baik di Masa Depan.
Sebagai seorang Mukmin, kita harus memiliki spirit bahkan semboyan hidup bahwa “Hari ini harus lebih baik dari kemarin”, sebagaimana difatwakan oleh sahabat Rasulullah s.a.w, sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. berikut ini.
مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ اَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ اَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُونٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ اَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُونٌ
“Barangsiapa yang hari ininya lebih baik dari kemarin, dia tergolong orang yang beruntung, Dan barangsiapa hari ininya sama dengan hari kemarin, dia tergolong orang yang merugi. Dan barangsapa hari ininya lebih buruk dari kemarin, dia tergolong orang yang celaka”.
Inilah semangat hidup seorang Mukmin dalam upaya meraih kemenangan hidup dunia akhiratnya.
2.Meraih Capaian Akhir Kehidupan Yang Optimal.
Spirit ini merupakan spirit untuk meraih capaian akhir dari nilai kehidupan yang terbaik di hadapan Allah.
Lewat rajin bermuhasabah, kita berharap dapat mengisi dan mengakhiri kehidupan di dunia, dalam katagori orang yang “berat timbangan kebaikannya”, sehingga di akhirat termasuk orang yang beruntung (Husnul Khatimah).
وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذِ الحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِنُهُ فَاُلَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS:Al-A’raf:8).
Kita menaruh harapan besar, bahwa melalui rajin bermuhasabah, semoga menjadi orang yang berhasil meraih cita-cita mendasar kehidupan “Fiddunyaa Hasanah Wafil Aakhirati Hasanah Wa Qinaa ‘Adzaaan-Naar” (bahagia di dunia dan bahagia di akhirat dan dijauhkan dari siksa api neraka).
Dengan catatan bahwa seluruh hasil muhasabahnya harus ditindak-lanjuti dengan:
وَالَّذِينَ اِذَا فَعَلُوا فَحِشَةً اَوْ ظَلَمُوا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُالذُّنُوبَ اِلَّا اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS:Ali-Imran:135).
V.LAKSANA BERCERMIN
Kalau kita renungkan apa yan telah kita bahas di muka, kiranya dapat kita pandang bahwa bermuhasabah itu laksana bercermin.
Prinsipnya, ingin melihat gambaran kondisi kita sesuai apa adanya (sejujurnya). Tidak ada sedikitpun yang tersembunyikan.
Itulah CERMIN! Ia adalah sahabat yang paling jujur, karena ia selalu memberitahukan tentang diri kita apa adanya. Jika baik ia tunjukkan baik, dan jika ada keburukan ia tidak segan menunjukkan leburukan apa adanya.
Demikianlah, dengan “muhasabah”, kita ingin mengetahui bagaimana kondisi amal perbuatan diri kita secara jujur apa adanya, laksana kita sedang bercermin. Diikuti dengan langkah-langkah perbaikan.
Subhanallaah! Allah SWT telah melengkapi penciptaan manusia, dengan diberinya unsur yang memiliki sifat jujur apa adanya persis seperti Cermin. Yaitu HATI NURANI (af-idah).
وَهُوَ الَّذِي اَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالاَبْصَارَ وَالاَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati nurani.Amat sedikitlah kamu bersyukur”. (QS:Al-Mukminuun:78).
Ya, HATI NURANI memang mahluk paling jujur seperti jujurnya Cermin. Tidak pernah berbohong sedikitpun. Oleh karena itu, ketika kita bermuhasbah, maka sebagai alat utamanya atau basisnya, GUNAKAN HATI NURANI. Sudah barang tentu sesuai kebutuhannya, lengkapi dengan pendukung lainnya, seperti pikiran, penglihatan, pendengaran, ilmu (pengetahuan), informasi dan lain sebagainya.
Sangat baik pula, banyak mendengar atau meminta nasihat dari orang-orang yang representatif dan layak diminta nasehat, yang dapat berperan bagaikan cermin. Kita simak sabda Rasulullah s.a.w yang diungkapkan oleh Abi Hurairah r.a.
اَلْمُؤمِنُ مَرَاَةُ اَخِيهِ اِذَا رَاَى فِيهِ عَيْبًا اَصْلَحَهُ
“Seorang Mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya”. (Hasan secara sanad).
Untuk itu, guna mengoptimalkan upaya muhasabah, ada baiknya banyak-banyaklah minta pandangan serta nasehat dari orang-orang yang bisa berperan bagaikan cermin. Mampu dan mau menyampaikan pandangannya tentang diri kita secara tulus dan jujur.
Demikian renungan kita kali ini, semoga ada manfaatnya.
Wa Allaahu A’lamu bishshawaab.